Umumnya dalam prosesi pernikahan adat sebagian besar perhatian akan tercurah pada pengantin wanita. Namun, dalam prosesi pernikahan adat Jawa, ada sesi khusus antara calon mertua pria dengan calon menantu prianya. Tepatnya pada malam midodareni atau malam di mana calon pengantin pria beserta keluarga menghantarkan seserahan kepada calon pengantin wanita.
Setelah semua seserahan diberikan, maka tiba giliran calon menantu pria merespon dengan menyampaikan catur wedha.
Apakah Catur Wedha?
Secara sederhana, catur wedha adalah wejangan atau nasihat calon mertua pria kepada calon menantu prianya. Wejangan ini disampaikan atau dibacakan oleh calon mertua pria dengan menggunakan bahasa Jawa Ngoko karena bentuknya berupa perintah dari orang tua kepada anaknya. Lalu bagaimana jika calon menantu prianya bukan keturunan Jawa? Pada prinsipnya calon mertua pria tetap bisa memberikan wejangan ini dengan membacakannya dalam bahasa Indonesia.
4 Makna Penting dalam Wejangan Catur Wedha

Ada empat poin penting yang disampaikan calon mertua pria kepada calon menantu prianya. Keempat poin itu adalah :
- Mengayomi : Sebagai kepala keluarga, pria harus melindungi istrinya dengan sepenuh hati. Peran melindungi ini sama dengan orang tua melindungi anak-anaknya tanpa pamrih.
- Hangayani atau menyejahterakan : Sebagai kepala keluarga, pria juga harus bertanggung jawab untuk menyejahterakan istrinya.
- Hangayemi atau memberi rasa nyaman : Menciptakan rasa nyaman di dalam keluarga akan membuat istri merasa selalu dicintai oleh suaminya.
- Hanganthi atau memimpin : Selayaknya seorang kepala keluarga, pria harus memimpin perjalanan rumah tangga dengan bijak bersama istrinya.

0 Comments